close
images-kampoengsmuda-2017

Tidak terasa alias ujug-ujug tahun 2017 sudah hampir berakhir, banyak kisah sudah kita lalui di tahun ini. Seperti kebanyakan nasehat para motivator baik yang gratisan maupun berbayar, setiap pergantian tahun sebaiknya kita melakukan review atas pencapaian target yang sudah kita susun di tahun ini dan merencanakan apa yang akan kita lakukan di tahun mendatang.

Eh, hayo.. sudah punya target tahunan kan? Kalau belum, silahkan hubungi motivator terdekat karena tulisan ini tidak akan membahas cara jitu membuat target dalam 10 menit, tetapi kita akan membahas Paradigma dan Cinta (oke, yang jomblo harap tenang). Yuk, mari kita sambut tahun 2018 dengan secangkir kopi dan membaca tulisan ini sampai selesai. Bismillah..

Tahun Baru Dengan Paradigma Baru

Tidak perlu kan ya penjelasan filosofis tentang makna tahun baru? Jadi, yang akan kita bahas adalah istilah paradigma yang menjadi bagian dalam judul tulisan ini. Apa to paradigma itu?

Pengertian paradigma secara lengkap bisa googling sendiri lah ya baik secara etimologis maupun terminologis menurut para pakar seperti Pak Robert Freidrichs, Thomas Khun sampai C.J. Ritzer. Di sini saya akan menyederhanakan pengertian dari istilah paradigma, yaitu “cara kita memandang suatu hal” atau biar gampang, mari kita sepakat untuk mengartikan paradigma itu sebagai sudut pandang berfikir kita.

Nah, supaya tidak hanya mas viky prasetyo saja yang paham menggunakan istilah yang terasa “intelek” ini, mari kita pahami bagaimana sebuah paradigma terbentuk di alam pikiran kita. Biar lebih mudah dicerna, saya akan berkisah saja dengan sebuah cerita yang diperankan oleh saudara kembar teman kita, monyet. *bagi yang sudah tahu ceritanya, tolong diam!

“Seorang professor bernama prof.anu (maaf, nama dirahasiakan) melakukan riset dengan sekelompok monyet di dalam sebuah ruang bawah tanah. Di dalam ruangan itu, sudah di siapkan sebuah tangga yang tepat di atas tangga tersebut terdapat sebuah pisang masak yang di gantung.

Riset yang dilakukan oleh prof.anu adalah sebagai berikut: setiap ada monyet yang mencoba menaiki tangga untuk meraih buah pisang tersebut, prof.anu akan menyemprotkan air ke semua monyet lain yang sedang TIDAK naik tangga. Kegiatan main semprot pak prof ini dilakukan terus menerus. Pokoknya, kalau ada salah satu monyet yang naik tangga, yang kena semprot air adalah monyet lain yang lagi santai atau yang lagi membasmi kutu di badan mereka.

Karena kejadian itu berlangsung terus menerus, akhirnya para monyet pun menyadari satu hal bahwa prof.anu tidak sesayang itu pada mereka akan menyemprot air kalau ada monyet yang mencoba naik tangga tersebut. Dan sebagian besar mereka pun sepakat, setiap ada monyet yang mencoba naik tangga tersebut, mereka akan menyerangnya saja daripada basah oleh semprotan air prof.anu tersebut.

Hari demi hari terlewati, dan akhirnya tidak ada satu pun monyet yang mau mencoba lagi menaiki tangga tersebut karena takut diserang oleh monyet yang lain, walaupun sudah berhari-hari tidak ada penyemprotan lagi oleh pak prof. Mindset mereka sudah terbentuk!

Riset pun berlanjut, prof.anu mengganti sebagian monyet dari kelompok pertama tadi dengan monyet kelompok kedua yang baru untuk masuk ke dalam klub monyet tersebut. Monyet yang baru dimasukkan ini tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di ruangan itu sebelumnya, sehingga secara naluri, monyet baru itu pun dengan semangat mencoba menaiki tangga untuk meraih pisang di atasnya.

Dan, baru saja naik ke anak tangga pertama, si monyet baru itu pun di serang oleh sekelompok monyet lama. Dan kejadian itu pun berulang terus, sehingga monyet baru itu pun akhirnya tidak berani untuk menaiki tangga lagi. Mindset pun terbentuk di monyet baru, pokoknya tidak boleh naik.

Riset berlanjut lagi, monyet kelompok pertama pun seluruhnya diganti dengan monyet kelompok ke tiga yang benar-benar baru. Sehingga yang ada di ruangan tersebut adalah monyet kelompok kedua dan monyet baru. Monyet kelompok ke tiga yang baru masuk dan melihat tangga yang di atasnya ada buah pisang pun semangat untuk berusaha meraihnya.

Baru saja dapat satu anak tangga, monyet itu pun diserang oleh kelompok monyet ke dua tanpa tahu kenapa mereka di serang. Pokoknya, menurut monyet senior haram menaiki tangga itu, begitu aturannya atau dalam bahasa mas Viky Prasetyo begitu paradigma yang berlaku.”

Dari riset prof. Anu ini dapat menerangkan dengan sederhana proses terbentuknya sebuah sebuah paradigma. Tentu, tidak se-simple itu dalam kejadian nyata di dunia kita. Tapi, begitulah kira-kira gambarannya.

Sebuah paradigma kadang terbentuk atas suatu norma umum yang berlaku yang tidak kita pahami asal muasalnya, pokoknya begitu aja anggapan yang umum, dan paradigma juga bisa terbentuk atas sebuah proses berfikir kita dalam memandang sesuatu. Pun tidak berarti paradigma melulu buruk, seperti kisah monyet tadi. Paradigma hanyalah pola berfikir kita, yang baik dan yang buruk. Paradigma pun juga bisa berubah atau paradigma shift yang, Eh, duh.. kok jadi berat bahasanya. Oke Skip aja lah ya, dari pada gak dibaca sampai selesai. :p

Apa hubungan tahun baru dengan cerita monyet tadi sih? Loh, kalau dengan monyet sih hubungannya ya baik-baik saja hehe.. Tidak ada hubungan dengan monyet, tapi dengan sebuah pembentukan paradigma atau sudut pandang kita di masa lalu.

Tahun 2017 akan segera menjadi masa lalu kita, satu tahun adalah sebuah waktu yang cukup untuk membentuk sudut pandang kita dalam memaknai sebuah kegagalan dan keberhasilan. Secara manusiawi, menghadapi kegagalan akan jauh lebih berat daripada keberhasilan (dalam hal apapun).

Jadi, mari kita ucapkan syukur atas segala keberhasilan kita di tahun 2017 ini dan mari kita merubah sudut pandang kita untuk membuat “anggapan” kegagalan yang terjadi sebagai langkah pertama dari kesuksesan kita di tahun 2018 nanti.

Loh, ngawur sampeyan, piye carane wong gagal kok dianggep langkah sukses?

Hmm, untuk mejawab pertanyaan itu, coba bacalah quote ajaib dari om Stephen Covey:

“Kalau ingin perubahan kecil, ubahlah Perilakumu. Kalau ingin perubahan besar ubahlah Paradigma-mu” .

Sebuah keberhasilan besar tentu butuh sebuah perubahan besar, dan perubahan besar membutuhkan perubahan paradigma. Karena itulah, bagi siapapun (khususnya saya sendiri) yang merasa 2017 sebagai:

  • Tahun kegagalan..!
  • Tahun yang buruk..!
  • Tahun stagnan, tidak ada perubahan berarti..!
  • Tahun yang banyak target meleset..!
  • Dan segala hal negatif lainnya..

Yuk, mari kita evaluasi kejadian-kejadian apa saja yang telah membentuk kita di tahun 2017 ini. Tulis kejadian yang berhasil dan rayakan dengan sedikit gorengan dan seduhan kopi hangat. Dan tulis semua kejadian yang kita “dianggap” gagal menjadi sebuah daftar.

Lalu pandangilah daftar tersebut dengan sebuah senyuman mengembang paling cakep yang bisa dilakukan, lihat kiri-kanan, kalau sudah yakin suasana cukup sepi, silahkan teriak dengan kencang:

“ALHAMDULILLAH, JATAH KEGAGALANKU SUDAH BERKURANG BANYAK, 2018 SAATNYA AKU SUKSES..!”

Kegagalan itu hanyalah sebuah kata, dan sebuah kata bisa tidak kita pakai di dalam kamus kehidupan kita. So, sahabat saya yang super (dengan nada pak mario), mari kita buang saja paradigma lama mengenai arti sebuah kegagalan. Kegagalan bukanlah sebuah ketidakbecusan, tapi hanya salah satu proses wajar yang harus kita lewati untuk menuju keberhasilan kita.

Sekali lagi, yuk lupakan segala pengalaman pahit di tahun 2017 lalu, dan mari kita sambut bersama-sama tahun 2018 nanti dengan sebuah paradigma baru yang sudah kita bentuk hari ini, yaitu paradigma kesuksesan. Itu!

Sekian.

“Eehh, sebentar.. sebentar.. kok tidak bahas tentang cinta, kan ada di judul tulisanmu broo??!!”
“oh, itu. cuma iseng aja, biar para jomblo ikut baca. Maaf ya mblo”  

Ditulis Oleh : Yogie Krisnawangi Saifullah

Tags : paradigmasambut 2018tahun baruyogie
Kampoeng Smuda

The author Kampoeng Smuda

KampoengSmuda merupakan sebuah lembaga yang menjadi organisasi dalam menjalin ukhuwah dan menjunjung persaudaraan yang damai dan selalu bersatu. Lembaga KampoengSmuda bergerak di bidang Pendidikan, Sosial, dan Usaha dengan nomor kelembagaan : 60/LMB/2014/PN.Ngawi

Leave a Response

ten + seventeen =